Selasa, 28 Mei 2013

BENARKAH ORANG BERAGAMA ISLAM PASTI MASUK SURGA?


Mengapa korupsi merajarela di negeri yang katanya sebagian besar penduduknya beragama islam? Apakah islam mengajarkan korupsi? Tentu saja tidak! Jika tidak, apa penyebabnya? Inilah yang akan diselidiki.

Penulis tidak akan mewancarai para koruptor beragama islam. Penulis akan menyelidikinya dengan mencari tahu ajaran agama islam di Indonesia. Setelah mencari tahu di internet, ada informasi bahwa semua orang islam akan masuk surga jika sebelum meninggal membaca syahadat. Perlu dimaklumi bahwa orang beragama islam membaca syahadat sehingga dapat dikatakan bahwa orang beragama islam membaca syahadat sebelum meninggal dunia. Hanya saja, dosa-dosanya ditebus dahulu dengan siksa neraka. Setelah itu, orang beragama islam akan masuk surga selama-lamanya.

Jangan-jangan, kepercayaan seperti itulah yang menyebabkan orang beragama islam berani melakukan korupsi. Apalah artinya siksaaan di neraka jika ujung-ujungnya masuk surga selama-lamanya? Durasi tinggal di neraka menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan durasi tinggal di surga yang selama-lamanya.

Akan tetapi, benarkah Al Qur’an mengajarkan yang demikian itu? Jawabannya sudah ada dalam makalah CARA MASUK SURGA di blog ini. Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika ada sebagian yang diulangi lagi di sini.

Ajaran bahwa semua orang beragama islam akan masuk surga adalah salah. Hal tersebut tersurat dalam ayat 2:80 sampai 2:282 berikut ini.

2:80. Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (versi Dep. Agama RI)

2:81. (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (versi Dep. Agama RI)

2:82. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (versi Dep. Agama RI)

Anggapan bahwa sebelum masuk surga orang islam akan masuk neraka lebih dahulu untuk menebus dosa-dosanya sama dengan yang dianut oleh orang-orang sebelum Nabi Muhammad seperti yang dijelaskan dalam 2:80. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa orang-orang sebelum Nabi Muhammad ada yang beranggapan bahwa mereka tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya sebentar. Maksudnya, sesudah disentuh oleh api neraka sebentar orang-orang itu merasa akan masuk surga. Mengapa mereka beranggapan tidak akan disentuh api neraka kecuali sebentar saja? Menurut penulis, itu karena mereka beranggapan bahwa siksaan yang dialaminya tersebut adalah untuk menghapus dosa-dosanya. Ditegaskan dalam ayat-ayat berikutnya bahwa anggapan tersebut adalah salah. Yang benar adalah seperti yang tertuang dalam 2:81 dan 2:82. Di jelaskan dalam kedua ayat tersebut bahwa yang menjadi penghuni surga selama-lamanya adalah yang beriman dan beramal saleh. Menjadi penghuni surga selama-lamanya berarti tidak pernah masuk neraka walaupun hanya sebentar. Di lain pihak, orang yang berbuat dosa dan dosanya tersebut melebihi amal baiknya akan berada di neraka selama-lamanya. Menjadi penghuni neraka selama-lamanya berarti tidak pernah masuk surga walaupun hanya sebentar. Dengan demikian, manusia hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menjadi penghuni surga selama-lamanya atau menjadi penghuni neraka selama-lamanya.

Penjelasan hal ghaib yang disampaikan-Nya melalui Nabi Muhammad yang tersurat dalam ayat 2:80 sampai 2:282 tersebut tidak bisa dibantah kecuali oleh orang yang tidak beriman pada ayat-ayat Al Qur’an. Ayat-ayatnya sangat jelas dan terang-benderang. Penjelasan tersebut hendaknya menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang mencantumkan agama islam dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka.

Dari manakah asal ajaran salah yang mengatakan bahwa semua orang beragama islam akan masuk surga tetapi harus menebus dosa-dosanya terlebih dahulu? Konon, ajaran semacam itu ada dalam kitab hadis, yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai penjelas Al Qur’an. Tetapi apa kenyataannya? Kitab hadis tersebut tidak menjelaskan Al Qur’an tetapi malah bertentangan dengan ayat 2:80 sampai 2:282. Jadi, mengapa banyak orang beriman pada kitab hadis?

Jadi, adalah tidak benar anggapan bahwa semua orang beragama islam akan masuk surga. Anggapan bahwa orang beragama islam harus disiksa di neraka lebih dahulu untuk menebus dosa-dosanya sebelum masuk surga adalah salah

Minggu, 28 April 2013

KEHIDUPAN DUNIA DAN KEBENARAN AGAMA


PENDAHULUAN
Tiap pemeluk agama meyakini kebenaran agama yang dipeluknya. Masing-masing merasa mendapatkan rejeki, berkat, pertolongan, kasih sayang, dan perlindungan dari Tuhan. Mereka tidak merasa disiksa Tuhan karena agama yang dipeluknya tersebut. Yang mereka rasakan tersebut adalah berdasarkan kenyataan yang dialami dalam kehidupan dunia sehari-hari. Di samping itu, dalam tiap agama ada pemeluk yang berpendidikan tinggi. Ada yang bergelar sarjana, master, doktor, atau profesor. Semua ini dapat menumbuhkan kesan bahwa semua agama seolah-olah sama. Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa semua agama adalah sama. Mereka beranggapan bahwa tujuan agama adalah sama dan yang berbeda hanya jalan mencapai tujuan tersebut.

Semua yang dipaparkan dalam alinea di atas adalah penilaian agama berdasarkan kehidupan dunia. Jika yang digunakan untuk menilai kebenaran suatu agama adalah kehidupan dunia, semua agama memang akan tampak sama. Cara penilaian agama seperti itu dapat dimengerti dengan mudah karena semua orang baru menjalani hidup di dunia fana ini. Persoalannya, apakah cara penilaian seperti itu benar?

KEHIDUPAN DUNIA
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita bahas lebih dahulu tentang arti kehidupan dunia. Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan arti kehidupan dunia adalah 57:20; 29:64; dan 6:32.

57:20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (versi Dep. Agama RI)

29:64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

6:32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (versi Dep. Agama RI)

Jika diringkas, ketiga ayat tersebut menerangkan bahwa kehidupan dunia adalah hanya permainan dan sendau-gurau. Di samping itu, kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu.

Permainan dan Sendau-gurau
Apa yang dimaksud dengan kehidupan dunia adalah permainan dan sendau-gurau? Ketika bersendau-gurau, orang akan merasakan kesenangan yang bersifat sementara. Di sisi lain, dalam sebuah permainan ada yang kalah dan ada yang menang. Setelah sendau-gurau atau permainan selesai, kita akan kembali merasakan masalah kehidupan yang sebenarnya. Dalam kehidupan dunia, kesenangan bersifat sementara, seperti yang dialami ketika orang sedang bersendau-gurau. Dalam kehidupan dunia, kesedihan atau kebahagiaan bersifat sementara, seperti yang dialami orang ketika mengalami kekalahan atau kemenangan dalam suatu permainan. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat (29:64).

Kesenangan Yang Menipu
Apa yang dimaksud dengan kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu? Kesenangan dalam kehidupan dunia dapat menipu orang sehingga terjerumus ke jalan yang menuju neraka. Orang yang tertipu oleh kehidupan dunia tidak menyadari bahwa agama yang dianutnya adalah salah.

KORBAN KEHIDUPAN DUNIA
Di dunia ini, ada orang beragama tetapi termasuk orang kafir (tidak beriman). Contoh orang beragama tetapi termasuk orang kafir adalah yang percaya bahwa Al Masih anak Maryam (Yesus) adalah Allah (5:72), Al Masih adalah anak Allah (9:30), atau Uzair adalah anak Allah (9:30). Mungkin masih ada lagi orang beragama yang termasuk orang kafir selain dari contoh tersebut. Orang tidak beriman (kafir) tidak akan masuk surga tetapi akan masuk neraka (35:56). Dengan demikian, orang beragama yang termasuk kafir tersebut juga akan masuk neraka.

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (versi Dep. Agama RI)

35:36. Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (versi Dep. Agama RI)

Mengapa orang beragama dapat masuk neraka? Padahal, mereka mungkin suka berbuat baik. Penjelasannya adalah sebagai berikut. Perbuatan baik akan menjadi sia-sia jika tidak dilandasi oleh keimanan yang benar (18:104). Meskipun begitu, kebaikan-kebaikan yang dilakukannya akan dibalas dengan sempurna di dunia (11:15) dan di akhirat tidak mendapatkan balasan kecuali neraka (11:16). Dengan demikian, orang beragama yang dilandasi oleh keimanan yang salah juga akan diberi balasan dengan sempurna atas semua kebaikan yang dilakukan ketika hidup di dunia ini. Perlu diingat bahwa Allah memberikan pahala di dunia, di samping pahala di akhirat (3:148). Selain itu, Allah memberikan rejeki kepada yang dikehendakinya, tidak terkecuali orang beragama yang dilandasi oleh keimanan yang yang salah (17:18 dan 13:26). Oleh sebab itu dapat dimengerti jika mereka juga merasa mendapatkan rejeki dan pertolongan dari Tuhan. Mereka juga merasa terkabul doanya. Mereka merasakan keajaiban-keajaiban dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, kesenangan yang mereka terima menyebabkan mereka tertipu dalam menilai agama yang dianutnya.

18:104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (versi Dep. Agama RI)

11:15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (versi Dep. Agama RI)

11:16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

3:148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (versi Dep. Agama RI)

17:18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (versi Dep. Agama RI)

13:26. Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (versi Dep. Agama RI)

CARA MEMANDANG KEHIDUPAN ORANG KAFIR
Allah mengajarkan kepada kita agar tidak terpengaruh oleh kenikmatan hidup yang diberikan-Nya kepada orang kafir (20:131 dan 13:88). Kita tidak boleh iri kepada mereka karena mereka telah memilih jalan untuk membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat (2:86).

20:131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (versi Dep. Agama RI)

13:88. Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (versi Dep. Agama RI)

2:86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (versi Dep. Agama RI)

Walaupun demikian, kita juga perlu berhati-hati dalam menilai diri kita sendiri. Apakah orang beragama islam secara otomatis termasuk orang yang beriman dengan benar? Ini perlu dijadikan renungan karena agama yang tertulis di KTP (Kartu Tanda Penduduk) hanyalah data administratif saja.

PENUTUP
Kita tidak bisa menilai kebenaran suatu agama berdasarkan kejadian-kejadian dalam kehidupan dunia. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 25 Maret 2013

JALAN EMAS VERSUS JALAN YANG LURUS


PENDAHULUAN
Istilah golden ways (jalan/cara emas) dijumpai dalam sebuah acara stasiun televisi di Indonesia bernama Metro TV. Dalam acara tersebut, seorang motivator bernama Mario Teguh memberikan semacam petunjuk kepada pemirsa dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan. Petunjuk yang disampaikannya sering dikaitkan dengan Tuhan walaupun pemirsanya beragama yang bervariasi. Dapat dikatakan bahwa jalan emas itu seperti petunjuk bagi semua orang tanpa memandang agama. Di sisi lain, dalam Al Qur’an terjemahan ada istilah jalan yang lurus. Apa perbedaan antara jalan emas dan jalan yang lurus?

Penulis ingin menjawab pertanyaan tersebut. Sudah barang tentu, penulis menggunakan Al Qur’an untuk menjawab pertanyaan tersebut.

JALAN EMAS
Apakah jalan emas yang dimaksud dalam nama acara TV itu? Menurut penafsiran penulis, jalan emas yang dimaksud adalah jalan yang indah, mulia, dan bernilai, seperti sifat emas. Menurut penafsiran penulis juga, secara garis besar dapat dikatakan bahwa jalan emas yang ditawarkan adalah berlandaskan pada pegangan bahwa orang yang berbuat baik atau berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain akan dimuliakan Tuhan. Kemudian, orang yang dimuliakan Tuhan akan mendapatkan pemecahan masalah kehidupan dengan baik.

Mungkinkah Tuhan memuliakan semua orang tanpa memandang agamanya? Menurut Al Qur’an, orang yang dimuliakan Allah adalah orang yang masuk surga (37:42-37:43 dan 36:26-36:27).

37:42. yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, (versi Dep. Agama RI)

37:43. di dalam syurga-syurga yang penuh nikmat. (versi Dep. Agama RI)

36:26. Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga. Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

36:27. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan." (versi Dep. Agama RI)

Orang tidak beriman (kafir) tidak masuk surga tetapi masuk neraka (35:56) sehingga orang kafir tidak dimuliakan Allah.

35:36. Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (versi Dep. Agama RI)

Contoh orang kafir adalah yang percaya bahwa Al Masih anak Maryam (Yesus) adalah Allah (5:72), Al Masih adalah anak Allah (9:30), atau Uzair adalah anak Allah (9:30). Ada agama selain islam yang menganut kepercayaan seperti itu. Jadi, pengikut agama tersebut tidak dimuliakan Allah karena akan masuk neraka.

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (versi Dep. Agama RI)

Jika tidak dimuliakan Allah, mengapa orang kafir mendapatkan kenikmatan hidup di dunia? Mereka mendapat rejeki berupa kesehatan, harta, anak-anak, kekuasaan, dan lain-lain. Memang demikian, Allah memberikannya kepada mereka di dunia tetapi tidak memberikannya kepada mereka di akhirat (11:15 dan 11:16). Dijelaskan pula bahwa yang telah dikerjakannya di dunia ini akan sia-sia. Ini berarti bahwa amal baik atau amal yang bermanfaat bagi orang lain menjadi tidak berguna.

11:15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (versi Dep. Agama RI)

11:16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Kebaikan yang diterima orang kafir di dunia bukan tanda bahwa mereka dimuliakan Tuhan. Anggapan bahwa semua orang tanpa memandang agama dapat dimuliakan Tuhan adalah tidak sesuai dengan Al Qur’an. Jadi, kemana jalan emas itu menuju? Jalan emas itu menuju pada kebaikan di dunia yang sedang kita jalani sekarang ini saja. Ini dikarenakan jalan emas diperuntukkan bagi semua orang tanpa memandang agama.

JALAN YANG LURUS
Daripada mengikuti jalan emas, lebih baik kita mengikuti jalan yang lurus yang dibuat Allah. Jalan itu ada di Al Qur’an (17:9 dan 46:30).

17:9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (versi Dep. Agama RI)  

46:30. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (versi Dep. Agama RI)

Jalan yang lurus menuju ke kebaikan dunia dan akhirat. Hal tersebut terungkap dalam 2:201-2:202.

2:201. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".(versi Dep. Agama RI)

2:202. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (versi Dep. Agama RI)

PENUTUP
Jalan emas menuju ke kebaikan di dunia saja sedangkan jalan yang lurus menuju ke kebaikan dunia dan akhirat. Jalan yang lurus ada di Al Qur’an. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Rabu, 27 Februari 2013

SHALAWAT


PENDAHULUAN
Ada baliho berisi informasi tentang ajakan mengikuti acara bershalawat bersama seorang tokoh agama. Ada pula tulisan di sebuah bis berbunyi ”utamakan shalawat”. Ada pula kesenian daerah dengan nama slawatan. Di sisi lain, ada ajaran bahwa shalawat dapat membuahkan syafaat dari Nabi Muhammad. Ada pula ajaran yang menyebutkan bahwa ketika berdoa hendaknya disertai bacaan shalawat. Masih ada lagi hal-hal lain yang berkaitan dengan shalawat. Semua ini mendorong penulis untuk mempelajari Al Qur’an berkaitan dengan shalawat.

ISTILAH SHALAWAT DALAM AL QUR’AN
Istilah shalawat dijumpai dalam Al Qur’an dalam ayat 2:238 sebagai al shshalawaati.

002.238 [Ha]fi{th}oo AAal[a] a(l)[ss]alaw[a]ti wa(al)[ss]al[a]ti alwus[ta] waqoomoo lill[a]hi q[a]niteen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

002.238 Guard strictly your (habit of) prayers, especially the Middle Prayer; and stand before Allah in a devout (frame of mind). (versi Abdullah Yusuf Ali)

Dalam ayat tersebut, shalawat diartikan sama dengan shalat-shalat (prayers), yaitu bentuk jamak dari shalat.

Di pihak lain, istilah bershalawat dijumpai dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI dalam 33:56.

33:56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (versi Dep. Agama RI)

Apakah shalawat dalam 2:238 sama dengan yang dalam 33:56? Berikut ini kutipan transliterasi 33:56.

033.056 Inna All[a]ha wamal[a]-ikatahu yu[s]alloona AAal[a] a(l)nnabiyyi y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo [s]alloo AAalayhi wasallimoo tasleem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Ternyata tidak ada kata shalawat dalam 33:56. Kata yang diterjemahkan menjadi bershalawat tersebut adalah yushalluuna sedangkan kata yang diterjemahkan menjadi bershalawatlah adalah shalluu. Ada yang menarik di sini. Jika shalawat diartikan sama dengan shalat-shalat seperti yang ada di 2:238, bershalawat seharusnya berarti sama dengan bershalat atau melakukan shalat. Dapat pula, bershalawat diartikan sama dengan mempunyai shalat-shalat. Akan tetapi jika demikian kasusnya, isi 33:56 menjadi tidak masuk akal karena tidak mungkin Allah melakukan shalat atau mempunyai shalat-shalat untuk Nabi. Jadi, terjemahan 33:56 versi Dep. Agama tersebut bermasalah.

Sekarang, ada baiknya kita simak terjemahan 33:56 versi Abdullah Yusuf Ali berikut ini.

033.056 Allah and His angels send blessings on the Prophet: O ye that believe! Send ye blessings on him, and salute him with all respect. (Allah dan Malaikat-Nya memberikan berkah-berkah ke Nabi; wahai orang beriman! Berikanlah berkah-berkah kepadanya, dan berilah hormat kepadanya dengan sepenuh hati) (versi Abdullah Yusuf Ali)

Dijelaskan dalam 33:56 terjemahan versi Abdullah Yusuf Ali bahwa Allah memberikan berkah-berkah untuk Nabi Muhammad. Dijelaskan pula di situ bahwa orang beriman diperintahkan agar memberikan berkah-berkah dan penghormatan dengan sepenuh hati kepadanya.

Apa yang dimaksud dengan memberi berkah-berkah kepada Nabi Muhammad? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, berkah adalah karunia Tuhan yg mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Meskipun yang benar-benar dapat memberikan berkah adalah Allah, manusia pun dapat melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain meskipun itu hanya dapat terjadi karena ijin-Nya. Artinya, manusia dapat memberikan berkah kepada orang lain. Oleh karena itu, dalam menjalankan perintah itu, orang beriman dapat melakukan perbuatan yang berakibat pada kebaikan Nabi Muhammad. Contoh perbuatan itu adalah menyayangi, menolong, mendukung, melindungi, dan perbuatan lain yang berakibat pada kebaikan Nabi Muhammad ketika beliau masih hidup. Sesudah beliau wafat, yang dapat kita lakukan berkaitan dengan perintah tersebut adalah melakukan perbuatan yang berakibat pada kebaikan agama yang dibawanya. Bentuk nyatanya adalah membantu tugas Rasul Allah dalam memberi peringatan dan kabar gembira dengan wahyu Allah yang didokumentasikan dalam Al Qur’an semampu kita.

Mengapa Dep. Agama RI menerjemahkan shalluu menjadi bershalawatlah? Rupanya, Dep. Agama RI menggunakan pengertian shalawat yang dianut oleh sebagain besar pemeluk agama islam. Menurut mereka, shalawat adalah bacaan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Dengan demikian, bershalawat berarti membaca bacaan tersebut. Apa arti bacaan tersebut?

Marilah kita terjemahkan kata demi kata bacaan tersebut.

Allahumma = Ya Allah

Shalli = berkahilah

’ala = untuk

Muhammad = Nabi Muhammad

Perlu dijelaskan bahwa kata shalli adalah bentuk imperative (bentuk perintah). Oleh karena itu, shalli diterjemahkan menjadi berkahilah! Agar lebih jelas tentang hal tersebut, kutipan arti kata berdasarkan akar kata Sad-Lam-Waw yang terdapat dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  disajikan.

”  و ل  ص  = Sad-Lam-Waw = prayer, supplication, petition, oration, eulogy, benediction, commendation, blessing, honour, magnifiy, bring forth, follow closely, walk/follow behind closely, to remain attached.

In a horse race when the second horse follows the first one so closely that its head always overlaps the first horse’s body that horse is calledAL-MUSSALLI (i.e. the one who follows closely / remains attached).

Central portion of the back, portion from where the tail of an animal comes out, the rump.

musalla (مصلي) n. m. - 2:125
salat (صلاة) n. f. sing. - 2:3, 2:43, 2:45, 2:83, 2:110, 2:153, 2:177, 2:238, 2:277, 4:43, 4:77, 4:101, 4:102, 4:103, 4:103, 4:103, 4:142, 4:162, 5:6, 5:12, 5:55, 5:58, 5:91, 5:106, 6:72, 6:92, 6:162, 7:170, 8:3, 8:35, 9:5, 9:11, 9:18, 9:54, 9:71, 9:103, 10:87, 11:87, 11:114, 13:22, 14:31, 14:37, 14:40, 17:78, 17:110, 19:31, 19:55, 19:59, 20:14, 20:132, 21:73, 22:35, 22:41, 22:78, 23:2, 24:37, 24:41, 24:56, 24:58, 24:58, 27:3, 29:45, 29:45, 30:31, 31:4, 31:17, 33:33, 35:18, 35:29, 42:38, 58:13, 62:9, 62:10, 70:23, 70:34, 73:20, 98:5, 107:5
salawat (صلوات) nom. gen. n. plu. - 2:157, 2:238, 9:99, 22:40, 23:9
salla (صلي) vb.II m.
perf. act. 75:31, 87:15, 96:10
impf. act. 3:39, plu. neg. 4:102, plu. 4:102, tusalli (تصل) neg. 9:84, yusallee (يصلي) sing. 33:43, yusalloona (يصلون) plu. 33:56
salli (صل) impv. 9:103, salloo (صلوا) plu. 33:56, 108:2
musalleena (مصلين) pcple. act. plu. acc. gen. 70:22, 74:43, 107:4

LL, V4, p: 444445

Terjemahan kata yang mempunyai akar kata sad-lam-waw adalah : prayer (shalat), supplication (doa, permohonan), petition (petisi), oration (orasi), eulogy (pujian), benediction (doa), commendation (pujian), blessing (berkah), honour (kehormatan), magnifiy (memperbesar), bring forth (beranak), follow closely (mengikukti secara dekat), walk/follow behind closely (berjalan/mengikuti di belakang secara ketat), to remain attached (tetap melekat). Penjelasan arti kata yang lain tidak diterjemahkan karena artinya sudah berkaitan secara spesifik dengan binatang.

Tidak mungkin shalli diterjemahkan menjadi shalatlah, berdoalah, atau memujilah. Jika itu dilakukan, arti ”Allahumma shalli ’ala Muhammad” akan menjadi : ”Ya Allah shalatlah/berdoalah/memujilah untuk Muhammad!” Tidak mungkin orang menyuruh Allah agar shalat, berdoa, atau memuji untuk Muhammad.

Jadi, ”Allahumma shalli ’ala Muhammad”secara literal berarti ”Ya Allah berkahilah untuk Muhammad!” Artinya yang lebih mudah dimengerti adalah ”Ya Allah berilah berkah untuk Muhammad!” Di sini ada keanehan karena maknanya sama dengan memberi perintah agar Allah memberi berkah. Padahal, alasan membaca bacaan tersebut adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah dalam 33:56, yaitu agar orang memberi berkah kepada Muhammad. Dalam hal ini, orang disuruh memberi berkah malah berbalik memerintah yang memberi perintah, yaitu Allah. Selain itu, jika Allah mengatakan bahwa Allah memberi berkah-berkah untuk untuk Nabi Muhammad seperti disebutkan pada awal ayat 33:56, tentu berkah-berkah tersebut akan benar-benar sampai kepadanya. Jadi, mengapa orang-orang itu masih memohon agar Allah memberi berkah-berkah kepadanya? Apa mereka tidak percaya kepada Allah? Oleh karena itu, bacaan ”Allahumma shalli ’ala Muhammad” yang dianggap sebagai shalawat adalah tidak masuk akal dan tidak berdasarkan Al Qur’an.

PENUTUP
Shalawat berupa bacaan ”Allahumma shalli ’ala Muhammad” tidak sesuai dengan yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Minggu, 20 Januari 2013

DEFINISI MALAM MENURUT AL QUR'AN


PENDAHULUAN
Penulis sudah membahas definisi malam menurut Al Qur’an dalam makalah berjudul ”Waktu dan Cara Shalat Menurut Al Qur’an”. Meskipun demikian, tidak ada salahnya untuk membahasnya sekali lagi dalam suatu makalah tersendiri. Definisi malam menurut Al Qur’an seharusnya bersifat unik atau hanya ada satu karena Al Qur’an hanya ada satu. Perbedaan definisi malam yang ada membuat penulis ingin menguji lagi persepsi penulis tentang definisi malam.

SIFAT MALAM
Gelap
Sifat malam yang sudah diketahui oleh semua orang sejak jaman dahulu adalah gelap. Dalam Al Qur’an, malam dijadikan Tanda kekuasaan Allah bagi manusia (36:37). Dijelaskan dalam ayat tersebut, siang ditarik dari malam. Maksudnya, siang berganti menjadi malam. Dan kemudian, yang terlihat adalah keadaan yang gelap. Pelajaran yang bisa diambil dalam konteks makalah ini adalah bahwa malam bersifat gelap.

36:37. And a Sign for them is the night. We withdraw from it the day. Then behold! They are in darkness. (Dan suatu Tanda bagi mereka adalah malam. Kami menarik darinya siang hari. Kemudian lihatlah! Mereka dalam kegelapan.) (versi Abdullah Yusuf Ali)

Berubah Secara Perlahan-lahan
Walaupun malam bersifat gelap, pendefinisian malam yang hanya menggunakan sifat gelap mempunyai masalah. Pada intensitas cahaya berapa lux suatu keadaan disebut gelap? Pertanyaan ini sulit dijawab karena intensitas cahaya matahari berubah secara perlahan-lahan dari waktu ke waktu. Intensitas cahaya semakin meningkat seiring dengan peningkatan sudut yang dibentuk oleh permukaan bumi dan sumber cahaya. Pada posisi tepat di atas kepala, intensitas cahayanya paling besar. Hal ini menyebabkan keadaan pada pertengahan siang akan lebih terang daripada ketika matahari baru terbit atau menjelang matahari terbenam. Demikian pula, setelah matahari terbenam, keadaan akan terasa masih belum gelap sekali. Perlahan-lahan, keadaan tersebut akan berangsur-angsur menjadi gelap.

Perubahan intensitas cahaya yang bersifat perlahan-lahan ini akan menyulitkan kita untuk memisahkan keadaan gelap dan terang kecuali jika menggunakan kriteria buatan manusia. Mungkin, ada orang yang menganggap, hari telah gelap jika cahaya matahari telah hilang. Anggapan ini masih menimbulkan pertanyaan. Bukankah keadaan 1, 5, atau 10 menit sebelum cahaya matahari hilang masih terasa gelap? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dibutuhkan suatu batas intensitas cahaya yang ditentukan oleh manusia. Misalnya, jika intensitas cahaya kurang dari sekian lux, keadaan disebut gelap. Persoalannya, jika itu dilakukan, kita akan mempunyai definisi malam menurut manusia, bukan menurut Al Qur’an. Oleh sebab itu, penggunaan intensitas cahaya hasil pengukuran dengan lux meter atau alat ukur lainnya atau hasil perkiraan manusia tidak bisa digunakan untuk mendefinisikan gelap menurut Al Qur’an.

Meskipun demikian, mungkin ada yang berpendapat bahwa perubahan dari siang (yang bersifat terang) menjadi gelap bersifat tiba-tiba. Ayat pendukungnya adalah 36:37, terjemahan versi Othman Ali dan versi Depag RI. Dalam kedua versi terjemahan tersebut disebutkan tiba-tiba dan dengan serta merta yang bermakna secara drastis.

36:37. Dan satu ayat bagi mereka ialah malam; Kami menanggalkan siang darinya, dan tiba-tiba, mereka dalam kegelapan. (versi Othman Ali)

36:37. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. (versi Depag RI)

Terjemahan 36:37 versi Depag RI dan Othman Ali tersebut berbeda dengan versi Abdullah Yusuf Ali yang sudah dikutip di muka dan versi Muhamed dan Samira Ahmed.  Bagian yang diterjemahkan menjadi tiba-tiba atau dengan serta merta, oleh Muhamed dan Samira Ahmed diterjemahkan menjadi maka kemudian (so then), dan oleh Abdullah Yusuf Ali diterjemahkan menjadi kemudian lihatlah (then behold). Tambahan, N. J. Dawood menerjemahkan bagian itu menjadi –and (-dan). Jadi, penulis berpendapat bahwa perubahan dari terang menjadi gelap tidak terjadi secara tiba-tiba.

36:37 And an evidence/sign for them (is) the night, We skin off/uncover from it the daytime, so then they are darkened/in darkness. (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

36:37 The night is another sign for them. From the night We lift the day-and they are plunged in darkeness. (versi N. J. Dawood)

Malam Masuk ke dalam Siang
Waktu dalam sehari dikelompokkan menjadi dua kelas utama, yaitu siang dan malam. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Dijelaskan dalam 22:61; 57:6; 31:29; 3:27; dan 35:13 bahwa malam masuk ke dalam siang dan siang masuk ke dalam malam. Untuk menafsirkannya, kita fokuskan pada kata masuk. Kata masuk bermakna keadaan suatu benda berada di dalam benda yang lain. Dalam hal ini, siang yang masuk ke dalam malam akan menjadi berada di dalam malam, dan sebaliknya.

22:61. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (versi Depag RI)

57:6. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (versi Depag RI)

31:29. Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Depag RI)

3:27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (versi Depag RI)

35:13. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (versi Depag RI)

Diterangkan dalam 7:54 bahwa Allah menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Ini berarti bahwa siang akan tertutup oleh malam. Dengan kalimat lain, siang menjadi tidak kelihatan. Oleh karena itu, ketika malam, siang tidak ada. Sampai di sini dapat dimengerti bahwa tidak ada waktu campuran siang dan malam atau waktu setengah siang setengah malam, atau waktu peralihan atau waktu pertengahan antara siang dan malam.

7:54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (versi Depag RI)

Allah menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat (7:54). Kalimat ini membutuhkan kehati-hatian dalam menafsirkannya karena dapat bermakna berbeda tergantung pada cara memenggal kalimatnya. Pertama, yang berlangsung dengan cepat adalah peristiwa malam menutup siang. Penggalannya adalah Allah ”menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.”. Kedua, yang berlangsung dengan cepat adalah peristiwa siang mengikuti malam. Penggalannya adalah Allah menutupkan malam kepada ”siang yang mengikutinya dengan cepat.”. Kita akan menguji yang kedua lebih dahulu. Seperti kita ketahui, setelah malam tiba, kita harus menunggu berjam-jam untuk menjumpai siang lagi. Ini berarti bahwa siang tidak mengikuti malam dengan cepat. Artinya, kemungkinan penafsiran kedua adalah salah. Dengan demikian, yang benar adalah penafsiran pertama, yaitu bahwa peristiwa penutupan malam kepada siang berlangsung cepat.

Peristiwa penutupan malam kepada siang yang berlangsung cepat berimplikasi bahwa di antara siang dan malam tidak ada waktu peralihan atau waktu di tengah atau waktu tumpang tindih (overlapping). Setelah siang ditarik, yang terjadi adalah malam (36:37). Begitu malam tiba, tidak ada waktu yang selainnya karena sudah tertutup malam. Begitu siang tiba, tidak ada waktu yang selainnya karena sudah tertutup siang. Ini juga berarti bahwa dalam suatu waktu hanya ada satu nama waktu, yaitu siang atau malam.

Sampai di sini dapat diringkas bahwa waktu dalam sehari dikelompokkan menjadi 2 kelas utama, yaitu siang dan malam. Dengan demikian, dalam satu waktu, hanya ada satu nama waktu, yaitu siang atau malam. Waktu siang mungkin dibagi lagi menjadi beberapa kelas yang lebih rendah tingkatannya, seperti pagi, tengah siang, dan sore. Waktu malam mungkin dibagi lagi menjadi beberapa kelas yang lebih rendah tingkatannya, seperti petang, tengah malam, dan fajar. Artinya, malam dan petang atau siang dan pagi adalah tidak satu tingkat dalam klasifikasi waktu dalam sehari.

DEFINISI MALAM
Kapan suatu keadaan disebut malam? Kali ini penulis akan menggunakan pendekatan waktu shalat dalam 17:78.

17:78. Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (versi Depag RI)

Ada dua kata yang perlu dibahas lebih dahulu, yaitu tergelincir dan gelap. Kata tergelincir dalam konteks ayat 17:78 berarti mulai bergeser turun. Kata gelap tidak tepat karena sebagai kata benda bentuk seharusnya adalah kegelapan (darkness). Dalam terjemahan versi Abdullah Yusuf Ali, bagian yang diterjemahkan menjadi tergelincir tersebut diterjemahkan menjadi penurunan matahari (the decline of the sun). Penulis menganggap keduanya berarti sama. Kemudian, waktu shalat dari matahari bergeser turun sampai kegelapan malam adalah kisaran waktu yang orang dapat shalat di dalamnya. Artinya, itu tidak berarti bahwa orang harus shalat dengan durasi sejak matahari bergeser turun sampai kegelapan malam.

Ada yang menafsirkan bahwa matahari bergeser turun dimulai dari tengah hari atau meridian (matahari kurang lebih berada di atas kepala). Jika waktu shalat di mulai dari ketika matahari di atas kepala sampai kegelapan malam, waktu shalat tersebut akan terlalu panjang. Orang dapat shalat ketika matahari di atas kepala atau beberapa menit menjelang kegelapan malam tiba. Jika demikian, orang tidak perlu shalat lagi ketika hari sudah gelap jika sudah shalat pada pertengahan siang. Oleh karena itu, penafsiran semacam ini tidak tepat.

Selain itu, pengamatan posisi matahari berasumsi bahwa wajah pengamat menghadap ke satu arah tertentu. Pada saat wajah menghadap ke depan, mata tidak bisa melihat matahari ketika berada di atas kepala sehingga matahari tidak akan tampak turun. Jika wajah menghadap ke atas, matahari memang akan kelihatan tetapi tidak tampak menurun melainkan tampak seperti berjalan mendatar.

Matahari akan tampak menurun jika wajah mengahadap ke depan dan matahari sudah agak condong ke bawah. Akan tetapi, waktu ketika matahari mulai turun menjadi masalah karena waktu tersebut akan bervariasi tergantung pada penafsiran tiap orang. Waktu ketika matahari mulai turun yang bersifat unik dan tidak tergantung pada panafsiran orang adalah ketika bola matahari mulai menyentuh horison. Gerakan matahari sejak menyentuh horison sampai tidak kelihatan lagi benar-benar persis seperti benda yang sedang turun, yaitu turun dari atas ke bumi. Sebagai penunjuk waktu shalat, tanda alam berupa peristiwa bola matahari menyentuh horison adalah sangat jelas dan tidak menimbulkan penafsiran bervarisi. Oleh sebab itu, matahari tergelincir dalam 17:78  bermakna matahari terbenam atau tenggelam.

Tambahan, penurunan matahari adalah suatu peristiwa, bukan posisi matahari mulai turun. Artinya, yang dijadikan batas awal waktu shalat adalah suatu peristiwa, yaitu penurunan matahari. Sebagai batas waktu, peristiwa tersebut haruslah berlangsung relatif singkat sehingga batasnya menjadi jelas. Jika berlangsung lama, batas waktu tersebut akan bervariasi tergantung pada penafsiran masing-masing orang. Artinya, sepanjang ditentukan berdasarkan peristiwa penurunan matahari terjadi, hasil penafsiran batas waktu yang diperoleh akan menjadi dianggap benar. Semakin lama peristiwa tersebut, variasi penafsiran batas waktu semakin besar. Peristiwa penurunan matahari yang relatif singkat adalah ketika bola matahari mulai menyentuh horison sampai tidak kelihatan sama sekali. Oleh sebab itu, awal waktu shalat yang dijelaskan dalam 17:78 adalah ketika matahari terbenam, bukan ketika tengah hari (meridian).

Untuk lebih meyakinkan lagi, penggunaan akar kata dilakukan. Berikut ini adalah transliterasi 17:78 dan kutipan akar kata dalam project root list yang di-download dari http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm.

017.078 Aqimi a(l)[ss]al[a]ta lidulooki a(l)shshamsi il[a] ghasaqi allayli waqur-[a]na alfajri inna qur-[a]na alfajri k[a]na mashhood[a](n)

Kutipan dari project root list :

د ل ك 
= Dal-Lam-Kaf = rubbing, squeezing, pressing, decline, sinking, become red, set, incline downwards from the meridian (sun). The whole phrase "duluk-as-shams" defined as "sunset" by Lane.
dalaka vb. (1) n.vb. 17:78
Lane's Lexicon, Volume 3, pages: 72, 73
Menurut kamus Lexicon, sebagaimana tertulis dalam kutipan di atas, dulooki a(l)shshamsi berarti matahari terbenam. Memang ada yang mengartikannya dengan turun dari meridian. Namun, yang berarti selain turun dari meridian lebih banyak, yaitu decline (turun), sinking (tengelam), become red (menjadi merah), dan terbenam (set). Arti yang lain seperti menggosok (rubbing), memeras (squeezing), dan menekan (pressing) kurang relevan dengan kasus ini. Jadi, ini mendukung penafsiran bahwa waktu shalat dimulai dari matahari terbenam.

Apa hubungan antara waktu shalat yang dimulai dari ketika matahari terbenam dengan definisi malam? Jawabannya ada dalam 11:114.

11:114. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (versi Depag RI)

Disebutkan ada waktu shalat pada kedua tepi siang. Tepi bermakna bagian pinggir. Tepi siang berarti bagian pinggir siang. Jika siang digambarkan dalam bentuk garis, tepi siang akan berupa titik pada ujung panah garis pada gambar berikut ini.

tepi siang 1 <=====siang=====> tepi siang 2

Tepi berupa titik pada ujung garis siang dalam gambar di atas hanyalah sebuah model. Titik tersebut menggambarkan suatu waktu tertentu yang durasinya sangat pendek, yang dalam matematika diistilahkan dengan delta t mendekati nol. Oleh karena itu, penafsiran tepi siang sebagai waktu shalat tidak menggunakan pemikiran matematis seperti itu. Orang tidak bisa shalat dalam waktu yang sangat pendek, sependek titik dalam garis pada gambar di atas. Pengertian tepi perlu dijabarkan ke dalam pengertian dalam kehidupan sehari, seperti misalnya dalam istilah tepi jalan. Tepi jalan berkisar dari pinggir jalan (perbatasan antara badan jalan dan bukan jalan) sampai beberapa meter di bagian luar badan jalan. Di tepi jalan inilah orang dapat berjalan tanpa ditabrak oleh kendaraan yang berjalan di badan jalan.

Dengan cara berpikir yang sama, kita dapat mengartikan tepi siang sebagai waktu shalat. Tepi siang sebagai waktu shalat berkisar dari bagian pinggir siang (perbatasan antara siang dan bukan siang) sampai beberapa jam atau menit dari bagian pinggir siang. Kisaran salah satu tepi siang sebagai waktu shalat dijelaskan dalam 17:78.

17:78. Establish prayer at the decline of the sun till the darkness of the night and (the recital of) Quran at dawn. Indeed, the (the recital of) Quran at dawn is ever witnessed. (Dirikanlah shalat pada saat penurunan matahari hingga kegelapan malam dan (pembacaan) Al Qur’an pada waktu fajar. Sungguh, (pembacaan) Al Qur’an pada waktu fajar sesungguhnya disaksikan.) (versi Abdullah Yusuf Ali)

Sudah dibahas di muka bahwa pengertian penurunan matahari adalah sama dengan matahari terbenam. Di sini kita bisa menafsirkan bahwa waktu sejak matahari terbenam sampai kegelapan malam adalah salah satu tepi siang yang ditetapkan sebagai waktu shalat. Bagian pinggir siang adalah waktu ketika matahari terbenam. Kisaran waktu yang orang dapat melakukan shalat pada salah satu tepi siang yang ditetapkan dalam 17:78 adalah dari pinggir siang (waktu ketika matahari terbenam) sampai kegelapan malam (cahaya matahari tidak kelihatan lagi). Berdasarkan pemikiran seperti ini, definisi malam dapat dirumuskan.

Jika salah satu tepi siang adalah waktu ketika matahari terbenam, waktu sejak matahari terbenam adalah bukan siang. Sudah dibahas di depan bahwa waktu yang bukan siang adalah malam. Oleh karena itu, malam dimulai ketika matahari terbenam. Dengan pemikiran seperti ini, dapat disimpulkan bahwa penentuan siang dan malam ditentukan berdasarkan kenampakan matahari. Ketika matahari mulai tampak pada pagi hari, malam berakhir. Jadi, malam adalah waktu ketika matahari tidak tampak. Dengan kalimat lain, malam adalah waktu sejak matahari terbenam (mulai menyentuh horison) sampai matahari terbit (mulai keluar dari horison). Definisi inilah yang penulis setujui.

KEJANGGALAN DEFINISI MALAM VERSI LAIN
Ada yang mendefinisikan bahwa malam adalah waktu sejak matahari terbenam sampai terbit fajar. Definisi ini janggal karena menggunakan dasar klasifikasi ganda. Dalam penentuan permulaan malam digunakan dasar berupa kenampakan matahari sedangkan dalam penentuan akhir malam digunakan dasar berupa kenampakan cahaya matahari. Definisi ini tidak sesuai dengan Al Qur’an, seperti yang telah didiskusikan sebelumnya dalam makalah ini.

Definisi malam yang lain menerangkan bahwa malam adalah waktu ketika hari sudah gelap. Menurut mereka, malam adalah gelap dan siang adalah terang. Mereka menganggap bahwa keadaan setelah matahari terbenam adalah masih terang atau belum gelap sehingga belum termasuk malam. Bagi mereka, malam adalah waktu ketika hari sudah benar-benar gelap. Oleh sebab itu, orang yang berbuka puasa Ramadhan sejak matahari terbenam dianggap bersalah oleh mereka karena berbuka terlalu awal.

Jika keadaan setelah matahari terbenam dianggap masih terang, berarti waktu itu masih dianggap termasuk siang karena siang bersifat terang. Seiring dengan perjalanan waktu, penurunan intensitas cahaya akan terjadi. Pada intensitas cahaya berapa lux keadaan masih dianggap terang? Jawabannya tidak ada di Al Qur’an. Demikian pula, pada intensitas cahaya berapa lux keadaan sudah dianggap gelap? Jawabannya tidak ada di Al Qur’an. Dengan demikian, anggapan siang masih berlanjut sampai satelah matahari terbenam menimbulkan masalah dalam menentukan waktu siang berakhir. Jika anggapan ini dipegang, orang akan menggunakan keinginan (nafsu) manusia sebagai dasar penentuan akhir siang atau awal malam.

Walapun demikian, di antara mereka ada yang percaya bahwa salah satu tepi siang yang disebut dalam 11:114 adalah waktu dari matahari terbenam sampai kegelapan malam seperti yang dijelaskan dalam 17:78. Sesuai dengan artinya, tepi siang adalah bagian paling pinggir atau paling luar dari siang sehingga dalam tepi siang tidak mengandung waktu yang termasuk siang. Jika mereka benar-benar meyakini bahwa tepi siang dimulai sejak matahari terbenam, mereka seharusnya meyakini bahwa sejak matahari terbenam, waktu siang telah berakhir karena waktu matahari terbenam menjadi bagian siang paling luar. Akan tetapi, mereka menganggap bahwa waktu ketika matahari terbenam adalah masih termasuk siang karena dianggap masih terang. Jadi, ada kejanggalan di sini. Sebaliknya, jika siang dianggap berakhir setelah keadaan dianggap gelap, misalnya beberapa menit setelah matahari terbenam, tepi siangnya menjadi mundur, yaitu dimulai dari waktu ketika matahari terbenam ditambah beberapa menit. Dengan demikian, definisi tepi siangnya menjadi tidak sesuai dengan yang diterangkan dalam 17:78. Atau, jangan-jangan malah waktu setelah terbenam matahari yang dikatakannya sebagai masih terang dianggap bukan siang? Jika demikian kasusnya, ini merupakan bentuk kejanggalan yang lain lagi.

Barangkali, jika saja mau meresapi bahwa suatu proses membutuhkan waktu, orang akan dengan mudah memahami bahwa malam dimulai sejak matahari terbenam. Memang benar bahwa malam bersifat gelap. Namun, sebelum menjadi gelap, malam harus melampaui tahap peralihan dari terang menjadi gelap. Ini berarti bahwa meskipun keadaan masih terlihat terang, dapat saja suatu waktu sudah termasuk malam. Keadaannya mungkin seperti proses perubahan dari bayi menjadi manusia dewasa. Seperti telah kita ketahui bahwa manusia mempunyai sifat dapat berbicara dan berjalan tegak dengan dua kaki. Walaupun demikian, bayi tetap dianggap sebagai manusia meskipun tidak dapat berbicara dan berjalan tegak dengan dua kaki.

PENUTUP
Penulis masih yakin bahwa malam adalah waktu sejak matahari terbenam sampai matahari terbit. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Minggu, 23 Desember 2012

EMPAT TAHUN UMUR BLOG


Tidak terasa, umur blog ini sudah mencapai 4 tahun. Teringat waktu itu, ketika pertama kali belajar cara membuat sebuah blog. Ternyata blog dapat digunakan untuk menuangkan buah pikiran kepada orang lain dengan mudah secara gratis. Sebelumnya, pernah terpikir untuk belajar cara membuat situs dengan label www- dot- com. Walaupun demikian, saya sudah menyadari bahwa umur blog ini tergantung pada google. Jika google tutup atau menutup blog ini, blog ini juga ikut tutup.

Sebenarnya, saya dahulu tidak ingin membuat situs sendiri. Waktu itu, saya hanya ingin buah pikiran saya dapat masuk internet. Pernah naskah saya dikirimkan ke sebuah situs internet dengan maksud agar dimuat tetapi tidak mendapat tanggapan. Oleh sebab itu, saya kemudian membuat blog ini.

Pertama kali mem-posting makalah, saya merasa agak takut. Selain takut membuat kesalahan, saya juga takut menghadapi respon pembaca. Benar juga, ada respon yang bernada tidak suka yang ditunjukkan dengan kata-kata bernada menghujat seperti kafir, sesat dan menyesatkan, atau masuk neraka. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghilangkan ruang komentar. Selain tidak suka dengan hujatan, saya juga tidak punya waktu untuk memberi tanggapan atau berdiskusi dengan pembaca. Kadang-kadang, saya merasa bahwa tidak ada gunanya mempunyai pembaca yang banyak tetapi hanya menghujat saja. Pembacanya sedikit tidak menjadi masalah. Jika tidak ada yang berminat membaca, biarlah saya sendiri yang akan membacanya. Yang penting, saya sudah menuangkan buah pikiran saya kepada orang lain.

Bagi saya, blog ini merupakan alat untuk menjalankan perintah untuk saling ingat-mengingatkan di antara manusia. Kalau disampaikan secara langsung kepada orang lain mungkin akan terasa seperti menggurui. Selain itu, jangan-jangan orang yang diingatkan malah marah-marah. Blog ini juga merupakan sarana bagi saya dalam mempelajari Al Qur’an. Jika ada pertanyaan tentang agama, saya sering membaca tulisan saya sendiri. Maklum, saya sendiri tidak hafal dengan semua yang pernah saya tulis. Kadang-kadang, saya merasa heran bisa menulis seperti itu.

Barangkali, ada yang ingin mengetahui tentang diri saya. Saya hanyalah orang biasa. Saya buta bahasa Arab. Saya bukan pemuka agama. Saya juga bukan cendikiawan. Saya tidak mempunyai kelompok pengajian. Saya benar-benar sendiri. Saya tidak mempunyai guru dan tidak mempunyai murid. Saya menuliskan buah pikiran saya sendiri. Saya hidup di tengah masyarakat dengan cara menyembunyikan pemahaman saya tentang islam.

Sebelumnya, saya belajar agama dari guru-guru sekolah formal dan buku-buku. Sejak kecil saya sudah mempunyai kecenderungan menyukai kutipan terjemahan Al Qur’an di buku-buku sekolah daripada kutipan kitab hadis. Al Qur’an, meskipun hanya dalam bentuk kutipan terjemahan, terasa lebih meyakinkan. Setelah lulus SMA, saya membeli Al Qur’an dan terjemahannya versi Dep. Agama yang berukuran kecil tetapi tebal. Waktu itu, saya kadang-kadang membacanya meskipun sering merasa kesulitan memahami isinya.

Setelah umur semakin bertambah, saya bertekad untuk membaca Al Qur’an terjemahan dari awal sampai akhir. Saya berpikir bahwa selagi masih hidup, saya harus pernah membaca Al Qur’an sampai habis, walaupun hanya terjemahannya. Kemudian saya menyisihkan waktu khusus yaitu tiap akhir pekan untuk membacanya. Kalau tidak salah ingat, mungkin sudah sampai 4 kali atau malah lebih saya membacanya dari awal sampai akhir. Dari pengalaman batin membaca Al Qur’an terjemahan tersebut, saya merasakan kesan ada perbedaan-perbedaan dengan yang dipahami banyak orang. Semakin lama, perasaan tersebut semakin menguat. Waktu itu, saya tidak tahu internet. Setelah dapat mengakses internet, saya mengetahui bahwa ternyata ada orang-orang yang kurang lebih senasib dengan saya. Kemudian, saya menyadari bahwa orang aneh seperti saya ternyata tidak sendiri di dunia ini.

Demikianlah sekadar tulisan untuk mengingat riwayat blog ini.

Sabtu, 24 November 2012

MENYEMBUNYIKAN IMAN


Isitilah menyembunyikan iman terdapat dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI, yaitu pada ayat 40:28.

40:28. Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu." Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

Alasan menyembunyikan iman dalam ayat tersebut, menurut penulis, yaitu karena ketakutan akan disiksa oleh Fir’aun jika keimanannya diketahui. Dijelaskan dalam Al Qur’an bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun akan disiksa dengan cara memotong tangan dan kaki dengan bersilang secara bertimbal balik sebelum mereka disalib. Menurut penulis, memotong tangan dan kaki dengan bersilang secara bertimbal balik dilakukan dengan cara memotong tangan kanan dan kaki kiri atau memotong tangan kiri dan kaki kanan. Penjelasan tersebut tersurat dalam 7:121 sampai 7:124.

7:121. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,

7:122. "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun."

7:123. Fir'aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);

7:124. demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya."

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah bahwa menyembunyikan iman dapat dilakukan oleh orang-orang yang keselamatannya terancam jika keimanannya diketahui. Penafsiran seperti ini dikuatkan oleh ayat 3:28.

3:28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

Adakah relevansi menyembunyikan iman di Indonesia? Rasa-rasanya, kita semua yang hidup di Indonesia sudah mengerti bahwa di negeri ini ada orang-orang yang membanggakan kelompoknya sendiri. Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka akan dinyatakan sesat. Kemudian, orang-orang yang dinyatakan sesat tersebut akan dikucilkan, diusir, ditekan, ditindak dengan kekerasan atau bahkan dibunuh. Oleh sebab itu, menyembunyikan iman tampaknya merupakan solusi yang tepat jika keimanan kita menyebabkan hidup kita menjadi terancam.